Tandem Lagerback dan Dokter Gigi yang Singkirkan Hodgson

Tandem Lagerback dan Dokter Gigi yang Singkirkan Hodgson

 

 

Tandem Lagerback dan Dokter Gigi yang Singkirkan Hodgson

Agen Maxbet – Kekalahan Inggris dari Islandia menjadi sebuah ironi saat menilik besaran gaji Roy Hodgson dan Lars Lagerback. Apalagi, jika menilik tandem Lagerback, Heimir Hallgrimsson, yang seorang dokter gigi.

Inggris secara mengejutkan disingkirkan Islandia pada babak perempatfinal Piala Eropa. The Three Lions kandas dari Aron Gunnarsson dkk. 1-2 di Allianz Riviera, Selasa (27/6/2016) dinihari WIB.

Inggris yang mempunyai pemain-pemain dari liga yang dinilai sebagai liga terbaik di dunia dan pelatih termahal harus menyerah kepada Islandia yang bahkan harus membangun lapangan sepakbola indoor demi menyiasati musim untuk mengembangkan talenta sepakbola di negaranya. Liga mereka juga bukan liga yang ‘wah’ dengan pemain-pemain mahal dan diminati pesepakbola-pesepakbola terbaik dunia.

Menilik sosok di balik kedua tim itu dari sisi bayarannya, Hodgson dan Lagerback, juga bak langit dan bumi. Pelatih timnas Inggris, Hodgson, digaji 3,5 juta poundsterling atau setara dengan Rp 67,3 miliar per tahun. Nominal itu menjadi yang tertinggi di antara pelatih tim-tim Piala Eropa.

Sementara, pelatih timnas Islandia, Lagerback, dibayar sepersepuluh gaji Hodgson, cuma 346 ribu atau setara Rp 6,1 miliar per tahun.

Tapi soal menghadapi Inggris, Lagerback bisa jemawa. Lagerback, kala menangani Swedia pada tahun 1998 hingga 2006, tak terkalahkan dalam enam pertemuan sebelum dengan Inggris. Lagerback bersama Swedia membuat dua kemenangan dan empat seri.

Baca Juga: Inggris Belum Bisa Lepas dari ‘Kutukan’ Lagerback

Kadar ironi itu akan makin bertambah ketika membandingkan Hodgson dengan tandem Lagerback di timnas Islandia, Heimir Hallgrimsson. Dia adalah dokter gigi yang sesekali masih menjalankan praktik di sebuah klinik di Heimaey.

Dia menjadi asisten pelatih timnas sejak 2011 kemudian berstatus sebagai co-coach dua tahun kemudian. Sebelumnya dia menangani tim putri Hottur dan berlanjut sebagai pelatih di IBV mulai 1999 sampai 2011.

“Ketika saya menangani IBV saya buka praktik pukul 08.00 sampai 15.00 dan latihan di klub mulai pukul 17.00. Seluruh hari saya kerja, kerja, dan kerja,” kata Hallgrimsson seperti dikutip ESPN.

“Saat saya mulai menangani timnas saya mulai mengurangi praktik di klinik dan tahun ini fokus saya lebih besar ke timnas. Sesekali saya tetap kemari untuk menjaga tangan dan otak saya tetap lincah sebagai dokter gigi, tapi saya sudah tak bikin janji dengan pasien lagi,” ucap pria berusia 49 tahun itu.

Usai pertandingan Hodgson minta diri dari timnas Inggris. Dia memilih untuk mundur dari bangku pelatih

Presiden Argentina dan Maradona Minta Messi Jangan Pensiun Dulu

Presiden Argentina dan Maradona Minta Messi Jangan Pensiun Dulu

 

 

Presiden Argentina dan Maradona Minta Messi Jangan Pensiun Dulu

Agen Maxbet– Permintaan agar Lionel Messi tak pensiun dari timnas Argentina terus muncul. Presiden Argentina Mauricio Macri dan legenda sepakbola Argentina Diego Maradona juga meminta Messi tetap membela tim Tango.

Messi menyatakan niatnya untuk mundur dari timnas seusai Argentina kalah adu penalti dari Chile di final Copa America Centenario, Minggu (26/6/2016). Penyerang berusia 29 tahun itu tampak begitu terpukul setelah kembali gagal mengantarkan Albiceleste menjuarai sebuah turnamen besar.

Messi sudah empat kali kalah di final bersama Argentina. Sebelumnya, dia juga harus puas dengan predikat runner-up di Copa America 2007, Piala Dunia 2014, dan Copa America 2015.

Setelah mendengar pernyataan Messi tersebut, Macri langsung menghubungi Messi. Dia meminta Messi tak meninggalkan tim nasional.

“Dia (Macri) menghubunginya dan mengatakan betapa bangganya dia atas performa tim nasional dan memintanya untuk tidak mendengarkan kritik, memintanya untuk tak berhenti,” ujar juru bicara Macri kepada AFP lewat sambungan telepon.

Maradona juga mengungkapkan hal serupa. Menurutnya, Messi harus bermain di Piala Dunia 2018.

“Messi harus bertahan di tim nasional. Dia akan pergi ke Rusia dalam performa terbaik untuk menjadi juara dunia,” kata Maradona seperti dikutip La Nacion.

Para suporter Argentina di Buenos Aires juga berharap Messi tak jadi pensiun sekarang. Demi memberi dukungan untuk Messi, mereka rela menunggu kepulangan tim Argentina sambil membawa kostum bernomor 10 milik Messi.

Islandia dan Saga yang Kini Bernama Sepakbola

Islandia dan Saga yang Kini Bernama Sepakbola

 

 

Islandia dan Saga yang Kini Bernama Sepakbola

Agen Maxbet – Sebagai sebuah negara kecil di dekat Kutub Utara yang hanya berpopulasi 330.000 jiwa (terkecil yang pernah masuk ke putaran final Piala Eropa), sepakbola Islandia nyaris tidak dikenal. Tentu belum ada seorang pun pemain top yang lahir dari sana, meski sejumlah pesepakbolanya kini telah berkiprah di Liga Primer Inggris dan Liga Champions atau kompetisi bergengsi lainnya di Eropa.

Datang sebagai “tim anak bawang” ke Prancis, Islandia adalah salah satu kesebelasan yang paling tidak diperhitungkan, untuk tidak menyebut diremehkan kehadirannya sebagai kontestan. Jika dibandingkan dengan Inggris, lawannya di Stadion Allianz Riviera, Nice, Selasa (28/6) dinihari WIB tadi, yang ditempatkan pada koefisien 9/1 sebelum kick-off Euro 2016, mereka cuma menduduki koefisien 125/1. Teramat jauh.

Tetapi siapa nyana kini mereka mampu menempatkan diri dalam berita utama media-media besar Eropa dan dunia? Sehingga semua orang pun dibuat terperangah dan para petaruh bola hanya bisa meringis. Bagaimana mungkin sebuah tim yang untuk pertama kalinya tampil di sebuah turnamen besar sekelas Piala Eropa, dengan dokter gigi sebagai pelatih dan sutradara di posisi kiper, bisa melaju sampai babak perempatfinal (!)?

Tetapi itulah kiranya yang terjadi.

Sadar tak memiliki skuat sebaik tim-tim lawannya, sejak laga pertama melawan Portugal, Islandia sudah menerapkan permainan defensif dengan pertahanan superketat pada formasi 4-4-2. Tercatat, rata-rata penguasaan bola mereka hanyalah 35% dengan 21 tembakan dalam tiga laga. Tak heran karenanya, pertahanan kaku ini pun membuat seorang superstar seperti Christian Ronaldo bagai membeku dan akhirnya frustasi. Apalagi sejak semula CR7 dinilai sudah meremehkan lawan sebelum pertandingan dan menduga akan mendapatkan pundi gol.

Betapa tidak, kendati pada pertandingan tersebut Portugal begitu mendominasi hingga 72% penguasaan bola dengan 26 usaha mencetak gol, mereka hanya bisa menghasilkan satu angka lewat Luis Nani sebelum kemudian dibalas Birkir Bjarnason tatkala babak kedua baru berjalan lima menit.

“Ini sedikit bikin frustrasi, kami berusaha keras untuk menang, Islandia tak melakukan apapun. Ketika mereka tidak mencoba bermain dan cuma bertahan, bertahan, bertahan, menurut saya ini menunjukkan mentalitas tim kecil dan takkan melakukan apapun di kompetisi ini,” demikian ungkap pemain Real Madrid itu usai laga seperti dikutip detikSport.

Bahkan lebih jauh, CR7 juga melontarkan cibiran sinis terhadap Irlandia: “Saya kira mereka juara Piala Eropa melihat cara mereka merayakannya di akhir laga, itu tak bisa dipercaya.”

Ah, Ronaldo barangkali memang layak frustasi. Belum lagi mengingat dalam laga itulah momen baginya untuk menyamai rekor Luis Figo sebagai pemain Portugal dengan caps terbanyak. Namun ucapannya itu, ditambah dengan sikap kurang sportifnya tidak mau bersalaman dengan para pemain Islandia, kontan menjadikannya bulan-bulan publik dan media.

Apa tanggapan para pemain Islandia?

Kejumawaan Ronaldo itu justru dengan enteng direspons oleh Gylfi Gunnarsson dengan mengunggah foto dirinya dan sang kapten Aron Gunnarsson, yang sedang memegangi replika jersey Portugal bernomor punggung 7 sambil tertawa lebar di akun Instagram. Foto tersebut juga disertai pesan “@alfredfinnbogason for @arongunnarsson …he finally got a Ronaldo shirt#shirtsforaron #fakeshirt” sebagai sindiran atas penolakan CR7 bertukar kaos dengan Aron.

Pujian untuk Hazard dan De Bruyne

Pujian untuk Hazard dan De Bruyne

 

 

Pujian untuk Hazard dan De Bruyne

Bandar Judi – Belgia berhasil mengalahkan Hongaria dengan skor telak 4-0 di babak 16 besar Piala Eropa 2016. Kemenangan yang meyakinkan itu tidak lepas dari performa brillian yang ditunjukkan dua bintang Belgia, Eden Hazard dan Kevin De Bruyne.

Penampilan dua pemain yang bermain di Liga Inggris itu pun mendapat pujian khusu dari pelatih Belgia, Marc Wilmots.

Hazard, yang juga berperan sebagai kapten, berhasil mencetak sebuah gol solo yang indah. Ternyata, gol pemain klub Chelsea tersebut merupakan permintaan dari pelatihnya.

“Saya meminta Hazard untuk mencetak gol dengan melakukan sisiran ke dalam, seperti yang ia biasa lakukan,” ucap Wilmots dikutip dari situs resmi UEFA.

“Ia (Hazard) kurang mendapat kebebasan untuk mencetak gol, dan ia adalah tipe pemain yang harus mendapat kebebasan di lapangan.”

Hazard memang bermain lebih lepas di laga tadi malam. Pemain 25 tahun itu berhasil menciptakan 11 dribel sukses dan 90% operan sukses. Selain gol, Hazard juga menciptakan assist untuk Michy Batshuayi.

“Seorang kapten tidak perlu berbicara banyak dengan mulutnya, ia hanya perlu berbicara dengan kakinya, dan Hazard melakukan itu hari ini.”

De Bruyne juga beraksi dengan gemilang. Ia mematenkan statusnya sebagai kreator serangan tim dengan menciptakan dua assist. Kerja keras pemain Manchester City itu menghasilkan pujian dari Wilmots.

“Aku hampir bermain dengan empat penyerang dalam formasi 4-2-3-1 dengan dua gelandang bertahan untuk memastikan pertahanan kami tidak terbuka.

“Namun aku memiliki De Bruyne, yang selalu bekerja keras untuk merebut bola setiap kali kami kehilangan bola. Ia membuat tim kami lebih kuat.”

Penyempurna Musim Apik Alexis

Penyempurna Musim Apik Alexis

 

 

Penyempurna Musim Apik Alexis

Bandar Sbobet – Alexis Sanchez, pemain yang satu ini tidak bisa dilepaskan dari kesuksesan Chile menjuarai Copa America Centenario. Atas penampilan apiknya, Sanchez pun dianugerahi Golden Ball.

Pada pertandingan final di Stadion MetLife, East Rutherford, New Jersey, Senin (27/6/2016) pagi WIB, Chile menang 4-2 lewat adu penalti atas Argentina. Sebelumnya, kedua kesebelasan bermain imbang 0-0 selama 120 menit.

Tidak lama setelah final selesai dan Chile mengangkat trofi juara, Alexis diberikan penghargaan Golden Ball alias Bola Emas, penghargaan untuk pemain terbaik di Copa America Centenario. Eduardo Vargas boleh menjadi pencetak gol terbanyak untuk Chile, tetapi Alexis-lah roh sesungguhnya lini depan Chile.

Pemain berusia 27 tahun itu selalu tampil dalam 6 pertandingan Chile di Copa America Centenario dan selalu jadi starter. Dalam enam penampilan tersebut, Alexis mencetak 3 gol dan membuat 2 assist.

Tapi, kontribusi Alexis lebih dari sekadar gol dan assist. Seringkali, ia juga yang mengawali serangan Chile dan mengancam pertahanan lawan. Sebagai contoh ketika Chile bertanding melawan Kolombia di semifinal, Alexis mengawali terciptanya gol kedua Chile.

Pada menit ke-11, Alexis melakukan tusukan dari sisi kanan pertahanan Kolombia. Ia kemudian melepaskan sepakan kaki kanan datar, yang lantas menerpa tiang gawang Kolombia. Bola rebound hasil tendangannya itu lantas disambar oleh Jose Fuenzalida dan Chile pun unggul 2-0.

Alexis jadi pemain Chile yang paling agresif di pertandingan tersebut. Ia paling banyak melepaskan tembakan, yakni 3, meski hanya 1 yang mengarah tepat sasaran.

Dengan menjadi pemain terbaik turnamen, sekaligus mengantarkan Chile menjadi juara, ini menjadi musim yang impresif untuk Alexis. Sebelumnya, ia juga tampil apik bersama Arsenal selama musim 2015/2016.

Seperti dilansir oleh Squawka, Alexis membuat 13 gol dan menyumbang 4 assist, kendati pun sempat absen 8 pertandingan di periode Desember-Januari. Alexis juga mengkreasikan 62 peluang sepanjang musim lalu. Di antara pemain-pemain Arsenal, catatan tersebut hanya kalah dari Mesut Oezil (mengkreasikan 144 peluang).

Di final pagi tadi, Alexis tidak mampu menyelesaikan pertandingan. Pada menit ke-103, ia terlihat kesakitan dan akhirnya digantikan oleh Francisco Silva.

Ia tidak ambil bagian dalam adu penalti. Tapi, tentu saja ia ikut berpesta setelahnya.

Untuk Tahun Ketiga Secara Beruntun, Argentina Gagal di Final

Untuk Tahun Ketiga Secara Beruntun, Argentina Gagal di Final

 

 

Untuk Tahun Ketiga Secara Beruntun, Argentina Gagal di Final

Bandar Judi – Argentina kembali harus menelan pil pahit di partai final. Untuk ketiga kalinya dalam tiga tahun secara berturut-turut, La Albiceleste gagal di laga puncak.

Sejak tahun 2014, Argentina selalu masuk ke final turnamen besar yang diikutinya. Dua tahun lalu, Argentina menembus final Piala Dunia di Brasil.

Namun Argentina harus puas menjadi runner-up. Menghadapi Jerman di partai final, Argentina takluk 0-1 lewat gol Mario Goetze dalam pertandingan yang harus dituntaskan lewat perpanjangan waktu.

Setahun kemudian, Argentina kembali tampil di final. Tim arahan Gerardo Martino itu melaju ke final Copa America 2015 dan menghadapi tuan rumah, Chile.

Pertandingan final melawan Chile berakhir dengan skor 0-0 sampai masa perpanjangan waktu. Pemenang akhirnya harus dituntaskan lewat adu penalti. Di babak adu tos-tosan, Argentina kalah 1-4 setelah Gonzalo Higuain dan Ever Banega gagal mengeksekusi penalti.

Tahun 2016, dalam edisi khusus Copa America Centenario, babak final kembali dijejak Argentina. Lawan yang dihadapi adalah Chile yang merupakan juara bertahan. Ini menjadi ulangan final Copa America 2015.

Dalam final di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey, Senin (27/6/2016) pagi WIB, pertandingan lagi-lagi harus dituntaskan lewat adu penalti setelah skor 0-0 tak berubah hingga babak perpanjangan waktu.

Di babak adu penalti, Argentina sempat berada di atas angin setelah Arturo Vidal yang menjadi eksekutor pertama Chile gagal menuntaskan tugasnya. Namun Argentina justru tak mampu memaksimalkan keuntungan tersebut. Lionel Messi, maju sebagai penendang pertama, gagal menyarangkan bola ke dalam gawang. Tendangannya melayang jauh dari sasaran.

Argentina lantas berada di ujung tanduk setelah tendangan Lucas Biglia digagalkan oleh Claudio Bravo. Eksekutor terakhir Chile, Francisco Silva, akhirnya menuntaskan adu penalti untuk memberi Argentina kekalahan 4-2.

Dengan kegagalan ini, kutukan Argentina di laga final masih berlanjut. Dalam catatan Opta, Argentina sudah kalah dalam tujuh final terakhir yang mereka capai. Sebelum tiga final yang disebutkan di atas, Argentina gagal di final Copa America 2004 dan 2007 serta Piala Konfederasi 1995 dan 2005.

Dan Terjadi Lagi… Oh, Messi

Dan Terjadi Lagi… Oh, Messi

 

 

Dan Terjadi Lagi... Oh, Messi

Bandar Judi – Apa yang mungkin ditakutkan oleh banyak orang Argentina terjadi lagi. Pemain terbaik dunia lima kali, Lionel Messi, masih belum bisa memberi gelar kepada negaranya.

Di final Copa America Centenario 2016, Messi bahkan gagal mencetak gol pada drama adu penalti melawan Chile, Senin (27/6/2016) pagi WIB. Tendangannya melambung melewati mistar gawang. Tim yang ia kapteni pun kalah 2-4, setelah bermain imbang 0-0 selama 120 menit.

Itu berarti Messi gagal membawa Argentina menjadi juara turnamen internasional dalam empat kesempatan final yang dia lakoni. Sebelumnya ia pernah tampil di laga puncak Copa America 2007 dan 2015, serta Piala Dunia 2014.

Ada begitu banyak alasan kalau seusai pertandingan final hari ini Messi tak kuasa menahan tangisnya.

Tentu saja kegagalan Argentina di Copa 2016 bukan semata-mata kegagalan Messi. Namun, mau tidak mau harus diakui bahwa pemain 29 tahun itu adalah “simbol” dari Albiceleste, yang menjadi harapan agar Argentina mengakhiri puasa gelarnya sejak 1993.

“Messi takkan seperti Diego Maradona sampai dia memberikan Piala (Dunia) buat negaranya,” demikian sebuah “hukum tak tertulis” di kalangan sebagian warga Argentina.

Dan dua hari lalu, sebelum final, Maradona sampai “mengancam” timnya apabila tidak berhasil menaklukkan Chile dan membawa pulang trofi edisi satu abad Copa America tersebut.

“Tentu, saya rasa mereka akan menang. Tapi kalau tidak, jangan pulang ke sini,” cetus sang maestro.

Tak terbayangkan apa yang sedang dirasakan La Pulga saat ini.

Ayo Pogba, Lebih Fokus

Ayo Pogba, Lebih Fokus

 

 

Ayo Pogba, Lebih Fokus

Agen Bola – Pelatih Prancis, Didier Deschamps meminta bintang mudanya, Paul Pogba, untuk lebih berkonsentrasi pada permainannya di timnas jelang laga melawan Irlandia malam ini, Minggu (26/6) pukul 20.00 WIB.

Pogba memang sejauh ini belum menampilkan performa terbaiknya. Gara-gara tampil kurang baik di laga pertama melawan Rumania, ia pun dibangkucadangkan di pertandingan kedua, sebelum akhirnya kembali ke starting line-up di laga terakhir melawan Swiss.

“Pogba menjalani laga yang sulit ketika melawan Rumania. Namun ia bermain baik ketika melawan Swiss,” ujar Deschamps.

Sang pelatih juga mengatakan, Pogba membutuhkan ketenangan untuk dapat fokus. Sebab, ekspektasi pada dia memang sangat tinggi setelah tampil luar biasa bersama Juventus. Pogba juga tengah santer dispekulasikan masa depannya, karena konon sangat dimaui Real Madrid, Manchester United, dan Manchester City.

“Dia (Pogba) butuh ketenangan untuk mempersiapkan diri dengan baik. Banyak rumor beredar tentang dirinya, namun ia masih muda sehingga butuh ketenangan untuk bisa berkonsentrasi dan fokus,” tukas Deschamps lagi.

[Baca kolom: Menanti Hat-trick Prancis di Piala Eropa]

Deschamps juga berkomentar tentang Dimitri Payet, yang sejauh ini telah menyenangkan dirinya, tim, dan fans Les Bleus. Bersama Pogba, kedua gelandang ini akan menjadi kunci saat menghadapi Irlandia.

“Payet kini bermain di Liga Inggris dan Pogba pernah bermain di Liga Inggris. Mereka mampu bermain menghadapi tim-tim yang bermain cepat dan langsung ke depan, seperti Irlandia,” imbuhnya.

Tumpahnya Air Mata Kroasia di Lens

Tumpahnya Air Mata Kroasia di Lens

 

 

Tumpahnya Air Mata Kroasia di Lens

Agen Bola – Performa impresif Kroasia di fase grup berakhir dengan menyedihkan di laga 16 besar. Tak heran jika para pemain mereka menangisi nasib mereka di Lens.

Seusai pertandingan melawan Portugal di Stade Bollaert-Delelis, Minggu (26/6/2016) dinihari WIB, sejumlah pemain Kroasia tampak tak kuasa menahan kesedihannya, setelah mereka kalah dengan skor tipis 0-1 lewat perpanjangan waktu.

Kapten Darijo Srna menunduk dalam-dalam dalam posisi berjongkok, dan tampak sesenggukan. Mengingat usianya sudah 34 tahun, mungkin itulah momen terakhir Srna di timnas Kroasia.

Bek kanan yang sejak 2003 membela klub Shakhtar Donetsk itu menjalani Euro 2016 dengan luar biasa. Selain menjadi pemimpin yang berkharisma, ia juga memainkan setiap pertandingannya dengan gagah berani.

 

Kesalahan Kroasia dalam Memaksimalkan Luka Modric

Kesalahan Kroasia dalam Memaksimalkan Luka Modric

 

 

Kesalahan Kroasia dalam Memaksimalkan Luka Modric

Agen Bola – Langkah Kroasia, yang sempat mengejutkan dengan mengalahkan Spanyol, di Piala Eropa 2016 harus berhenti di fase 16 besar. Mereka ditaklukkan Portugal dengan skor tipis 1-0 di Stade Bollaert-Delelis, Lens, Minggu (26/6). Satu-satunya gol dicetak melalui sundulan Ricardo Quaresma pada menit ke-117.

Pertandingan ini berjalan sampai dengan babak kedua perpanjangan waktu dan tempo permainan kedua kesebelasan begitu lambat hingga tanpa gol. Kedua kesebelasan bermain dengan sangat hati-hati pada laga ini.

Bahkan tidak ada tendangan yang mengarah ke gawang satu kali pun selama 90 menit. Dari total 23 tembakan pada laga ini, ada dua tendangan yang mengarah ke gawang, dan itu dari proses gol yang dicetak Quaresma.