Soal Rumor Akan Jadi Pelatih Italia, Cannavaro: Masa Depan Siapa yang Tahu

Soal Rumor Akan Jadi Pelatih Italia, Cannavaro: Masa Depan Siapa yang Tahu

 

Soal Rumor Akan Jadi Pelatih Italia, Cannavaro: Masa Depan Siapa yang Tahu

Agen Sbobet – Fabio Cannavaro mengungkapkan hasratnya untuk menjadi pelatih tim nasional Italia. Soal kansnya menjadi pelatih Gli Azzurri, dia bilang bahwa tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Italia akan ditinggal oleh Antonio Conte seusai Piala Eropa. Conte sudah menerima pinangan Chelsea, hingga posisi pelatih timnas pun lowong.

Beberapa nama sudah beredar untuk menjadi kandidat pelatih timnas Italia yang baru. Mulai dari Roberto Donadoni, sampai Roberto Mancini.

Pelatih yang mengantarkan Italia juara dunia tahun 2006, Marcelo Lippi, menambah satu nama yang menjadi kandidat lagi. Dia menyebutkan nama Cannavaro sebagai kandidatnya.

Saat berada di Jakarta usai bertanding Cladio Legend melawan Primavera Barreti di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Sabtu (21/5/2016), Cannavaro ditanya mengenai hal itu.

Cannavaro memberikan jawaban yang diplomatis atas kemungkinan untuk menjadi pelatih Italia yang baru.

“Kami tidak tahu bagaimana masa depan. Saya sangat ingin melatih timnas Italia, tapi masa depan tidak ada yang tahu,” kata Cannavaro kepada pewarta.

 

Menjawab Klaim Inggris, London, dan Piala FA sebagai Kiblat Sepakbola Dunia

Menjawab Klaim Inggris, London, dan Piala FA sebagai Kiblat Sepakbola Dunia

 

Menjawab Klaim Inggris, London, dan Piala FA sebagai Kiblat Sepakbola Dunia

Bandar Poker – Ini adalah soal London dan Piala FA. Yang satu adalah kota dengan berbagai cerita soal sepakbola, yang lainnya adalah turnamen tertua yang kaya cerita.

Keberhasilan Arsenal menggeser Tottenham Hotspur dari peringkat kedua Liga Primer Inggris adalah salah satu kisah utama pada akhir pekan yang lalu. Ini memang tidak seperti kesuksesan Leicester City menjuarai Liga Primer, namun bagi pendukung Arsenal maupun Spurs, St. Totteringham’s day ini adalah momen yang sangat penting.

St. Totteringham’s day adalah hari yang sudah terkenal. Hari tersebut adalah saat ketika suporter Arsenal merayakan keberhasilan mereka karena pada saat itu Spurs sudah tidak bisa lagi mengejar mereka di klasemen secara matematis.

Ini memang hanya melibatkan dua kesebelasan, Arsenal dan Spurs. Namun, jika kita melihat secara keseluruhan, sepakbola di Kota London memang sudah selalu menjadi sorotan. Masalahnya yang kemudian muncul adalah, siapa sebenarnya yang paling sukses di kota London? Dan apa efek sepakbola di kota London kepada sepakbola dunia secara keseluruhan?

Sebelum kita mendapatkan jawaban dari dua pertanyaan tersebut, kita bisa sedikit mengetahui terlebih dahulu mengenai sejarah sepakbola di ibukota Inggris tersebut.

Piala FA sebagai Tonggak Sejarah Sepakbola di Kota London

Budaya sepakbola di inggris sudah sangat kuat, terutama karena mereka mengaku sebagai leluhur sepakbola modern. Hal ini juga terjadi di London.

Sepakbola dimainkan hampir di seluruh kota tersebut. Di London, sepakbola tak melulu tentang olahraga, tapi juga ada unsur kekerasan, mabuk-mabukkan, gaya berpakaian, hingga politik di dalamnya. Jadi tak jarang, warga London mengaku kotanya sebagai kiblat sepakbola dunia.

Diawali pada akhir abad ke-19, mulai bermunculan sejumlah kesebelasan amatir di London dan sekitarnya. Namun, belum adanya kompetisi resmi saat itu, membuat kesebelasan amatir tersebut hanya rutin mengadakan pertandingan persahabatan. Belum adanya peraturan baku juga membuat setiap kesebelasan menentukan peraturan yang akan digunakan menjelang pertandingan.

Harrow School yang berada di wilayah Harrow on the Hill, sebelah tenggara London, merupakan pionir sepakbola modern. Sekolah tersebut menetapkan peraturan tentang sepakbola yang harus menggunakan kaki, kecuali penjaga gawang. Peraturan lainnya adalah penjaga gawang menggunakan sarung tangan dan mahkota untuk membedakannya dengan pemain outfield.

Akibat ketidakseragaman peraturan sepakbola di London, beberapa sekolah pun bertemu untuk membahas mengenai peraturan dasar sepakbola. Diadakan di The Freemasons’ Tavern di Great Queen Street, London, pada 26 Oktober 1863, mereka pun menyetujui sebuah peraturan dasar dalam permainan sepakbola dan membentuk lembaga khusus yang bernama The Football Association (FA).

Untuk meramaikan Kota London, FA membuat sebuah kompetisi yang diberi nama Football Association Challange Cup, yang sekarang kita kenal sebagai FA Cup atau Piala FA. Sampai sekarang pun kita mengenal Piala FA sebagai kompetisi sepakbola tertua di dunia.

Pertandingan final pertama Piala FA yang digelar saat itu, pada 16 Maret 1872, mempertemukan dua kesebelasan amatir, yakni Wanderers melawan Royal Engineers. Pertandingan berlangsung di Kennington Oval (sekarang lebih dikenal sebagai “The Oval” yang menjadi stadion kriket) yang dimenangi oleh Wanderers dengan skor 1-0.

Sementara pertandingan final pada akhir pekan ini (Sabtu, 21 Mei 2016, 23:30 WIB), yang mempertemukan Crystal Palace dan Manchester United, adalah final Piala FA ke-135.

Sejarah Beberapa Kesebelasan di Kota London

Pada tahun 1879, berdiri Fulham St. Andrews Church Sunday School FC yang kini lebih dikenal dengan nama Fulham. Kesebelasan ini menjadi kesebelasan profesional yang pertama berdiri di London, diikuti oleh Leyton Orient, Tottenham Hotspur, Queens Park Rangers, Millwall, Barnet, Brentford, Wimbledon, dan Woolwich Arsenal –yang kini berubah nama menjadi Arsenal– pada medio 1880-an.

Sementara itu, Chelsea, Charlton Athletic, Crystal Palace, dan Thames Ironworks –yang berubah menjadi West Ham United–, baru bergabung pada 1900-an.

Bergulirnya The Football League pada Maret 1888, membuat banyak kesebelasan asal London berdiri. Namun pada musim tersebut, kesebelasan asal London gagal membawa gelar juara, karena dimenangi oleh Preston North End asal Lancashire.

Pada musim 1904, Woolwich Arsenal menjadi kesebelasan London pertama yang sempat duduk di puncak klasemen, meski di akhir musim juara direngkuh oleh The Wednesday, asal kota Sheffield (sekarang menjadi Shefield Wednesday). Pada musim 1907, giliran Chelsea yang gagal juara setelah sempat duduk di puncak. Gelar juara akhirnya dimenangkan oleh Newcastle United.

Pada tahun 1915-1919, Football League vakum akibat perang dunia. Banyaknya pemain yang diharuskan berpartisipasi ke dunia militer membuat liga terhenti. Musim 1919-20, liga dimulai lagi dengan menghasilkan West Bromwich Albion sebagai juara. Sedangkan Chelsea mampu finis di peringkat keempat, menjadikan musim tersebut sebagai yang tersukses bagi mereka sejak mereka bergabung di Football League.

Sukses besar ditorehkan Arsenal pada era 1930-an. Mereka sukses menjadi juara sebanyak lima kali dalam sepuluh musim. Pada awal musim 1939/1940, London menempatkan lima wakil di antara 22 kesebelasan Football League. Mereka adalah Arsenal, Chelsea, West Ham, Charlton Athletic, dan Brentford. Namun pada pertengahan musim tersebut, liga terpaksa ditunda lagi akibat perang dunia kedua. Liga dilanjutkan pada musim 1946/1947, namun Brentford terpaksa turun ke divisi dua.

Siapa Rajanya Kota London?

Kota yang memiliki luas 1,570 km2 ini, untuk saat ini, ternyata sudah memiliki total 42 kesebelasan dari Liga Primer Inggris (level pertama) sampai Southern Football League Division One Central (level kedelapan).

Oh, ya, sebanyak itu? Bisakah Anda menyebutkan seperempatnya saja? Silakan jika mau berpikir dan menebak, tetapi jika Anda mau langsung mengetahui jawabannya, lanjutkan saja ke paragraf berikut ini.

Di Liga Primer 2015/16, London memiliki Arsenal, Chelsea, Crystal Palace, Tottenham, dan West Ham United. Kemudian di Divisi Championship 2015/16, ada Brentford, Charlton Athletic, Fulham, dan Queens Park Rangers.

Di League One 2015/16 ada Millwall saja, sementara di League Two 2015/16 ada AFC Wimbledon, Barnet, Dagenham & Redbridge (ini nama satu kesebelasan, bukan dua), dan Leyton Orient. Sisanya kita bisa menyebut dari Welling United sampai Corinthian-Casuals yang menginspirasi Sport Club Corinthians Paulista di Brasil.

Padahal kita belum menyebut kesebelasan yang sudah almarhum seperti Wanderers yang menjadi juara di Piala FA edisi pertama, Clapham Rovers, Wimbledon (tanpa AFC di depan nama mereka), Hayes, Nunhead, Croydon Athletic, dan 13 kesebelasan lainnya yang disebutkan pun kita mungkin tidak akan tahu.

Untuk menilai kesebelasan London yang paling sukses, kita bisa menyebutnya dari berbagai perspektif. Jika kita membicarakan gelar keseluruhan, Arsenal adalah rajanya London dengan koleksi 43 gelarnya di segala ajang resmi FA, UEFA, dan FIFA (Emirates Cup tidak masuk, ya). Kita bisa melihat tabel di bawah ini untuk mengetahuinya secara lengkap.

‘Setan Merah’ Ingin Sedekat Mungkin dengan Wembley

‘Setan Merah’ Ingin Sedekat Mungkin dengan Wembley

'Setan Merah' Ingin Sedekat Mungkin dengan Wembley

Agen Sbobet – Jelang final Piala FA, Manchester United menginap di hotel tidak jauh dari Stadion Wembley. Mereka ingin sedekat mungkin dengan stadion dihelatnya final itu.

Manajer United, Louis van Gaal, sendiri yang memutuskan untuk menginap tidak jauh dari stadion. Kini, para pemain United bisa melihat langsung Wembley dari tempat mereka menginap.

Van Gaal mengaku, ia pernah melakukan hal serupa ketika masih menangani Ajax Amsterdam di pertengahan 1990-an. Apa alasan manajer asal Belanda tersebut melakukannya?

“Kami memilih hotel ini karena kami bisa selalu melihat Stadion Wembley, supaya stadion itu selalu ada di benak para pemain, ini berkaitan dengan psikologi,” ujar Van Gaal kepada MUTV.

“Saya sudah pernah melakukannya juga bersama Ajax –para pemain bisa melihat stadion Besiktas ketika kami bermain di sana.”

“Kalian semua tahu, di Turki para pendukungnya selalu bising sepanjang hari. Jadi saya pikir, bagus kalau kami menginap dekat stadion dan hasilnya pun positif,” kata Van Gaal.

Dengan menginap dekat Wembley, tentunya skuat United bisa memangkas jarak untuk datang ke stadion. Dalam beberapa kunjungan terakhir ke London, dua kali United terjebak macet dan terlambat datang ke stadion, yakni ketika tandang ke markas Tottenham Hotspur dan West Ham United.

Kunjungan ke markas West Ham tidak berakhir menyenangkan. Lantaran telat, bus mereka pun berhadapan langsung dengan para pendukung The Hammers di luar stadion. Imbasnya, bus tersebut ditimpuki hingga kaca bagian luarnya pecah.

Saul: Ini Bukan Soal Balas Dendam

Saul: Ini Bukan Soal Balas Dendam

 

Saul: Ini Bukan Soal Balas Dendam

Agen Judi – Saul Niguez menepis anggapan bahwa Atletico Madrid menghadapi final Liga Champions melawan Real Madrid dengan niat untuk balas dendam. Sebaliknya, ini soal membuat sejarah.

Ya, sejarah. Apabila Atletico akhirnya keluar sebagai juara di final akhir pekan depan, 28 Mei 2016, mereka akan jadi juara baru, yang artinya untuk pertama kalinya dalam riwayat klub mereka sukses memenangi turnamen paling bergengsi antarklub Eropa itu.

Soal dendam, semua berbalik pada final dua tahun silam. Kala itu, pada laga yang berlangsung di Stadion Da Luz, Lisbon, Portugal, Atletico sempat unggul lebih dulu, tetapi kalah 1-4 lewat babak perpanjangan.

Saul mengakui bahwa Madrid memang lebih diunggulkan. Namun, kalau memang mereka lebih diunggulkan, kata Saul, Los Blancos harus bisa menunjukkannya di lapangan.

“Jika Real Madrid adalah tim yang superior, mereka harus membuktikannya di lapangan,” ujarnya kepada Radio Marca.

“Final di Milan kali ini bukanlah laga ulangan dari Lisbon, ini juga bukan soal balas dendam, ini soal membuat sejarah.”

“Kami tahu bahwa Madrid adalah tim yang tangguh. Laga nanti bakal sulit, tapi kami hanya berpikir soal bagaimana caranya bisa menang,” kata gelandang berusia 21 tahun ini.

Atletico melaju ke final setelah menyingkirkan Barcelona dan Bayern Munich di babak perempatfinal dan semifinal. Ini membuat mereka dinilai punya kans sama besar dengan Madrid untuk menang di final.

Pendukungnya Dilarang Bawa Bendera Catalan, Barcelona Ajukan Banding

Pendukungnya Dilarang Bawa Bendera Catalan, Barcelona Ajukan Banding

 

Pendukungnya Dilarang Bawa Bendera Catalan, Barcelona Ajukan Banding

Barcelona – Pendukung Barcelona dilarang membawa dan mengibarkan bendera Catalan di final Copa del Rey. Kubu El Barca mengajukan protes dan banding atas keputusan tersebut.

Pemerintah Kota Madrid pada tengah pekan ini mengeluarkan larangan bagi pendukung Barcelona untuk membawa dan mengibarkan bendera Katalan (Estelada) dalam laga final Copa del Rey, Minggu (22/5/2016) di Vicente Calderon. Barcelona akan berhadapan dengan Sevilla dalam pertandingan tersebut.

Larangan membawa serta mengibarkan bendera Catalan tentu saja langsung diprotes kubu Barca. Mereka mengatakan kalau aturan tersebut sama saja dengan serangan terhadap kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat. Sebagai bentuk protes, Presiden Josep Maria Bartomeu disebutkan tidak akan menghadiri final.

Bukan cuma memprotes, Barcelona secara resmi sudah mengajukan banding ke pengadilan agar larangan itu dicabut.

“FC Barcelona pada hari ini (Kamis) sudah mengajukan banding secara administratif pada Pengadilan Madrid untuk melindungi hak yang mendasar dan permintaan untuk membatalkan perintah yang sebelumnya dikeluarkan oleh Pemerintah Community of Madrid,” demikian pernyataan resmi Barcelona.

“Perintah tersebut merupakan pelarangan kemunculan bendera Estelada di final Copa del Rey yang akan dilangsungkan Minggu, 22 Mei di Vicente Calderon, antara FC Barcelona dan Sevilla,” lanjut pernyataan itu dikutip dari FourFourTwo.

Bukan cuma Pemerintah Madrid dan Spanyol yang mempermasalahkan bendera Katalan. UEFA setidaknya sudah dua kali menjatuhkan sanksi denda pada Barcelona atas berkibarnya bendera tersebut di ajang yang mereka gelar. UEFA berpendapat bahwa Estelada merupakan simbol politik yang bersifat provokatif dan ofensif serta tidak berhubungan dengan kegiatan olahraga.

Evan Dimas Cerita Pengalamannya Berlatih di Spanyol

Evan Dimas Cerita Pengalamannya Berlatih di Spanyol

Evan Dimas Cerita Pengalamannya Berlatih di Spanyol

Agen Bola – Setelah tiga bulan menjalani latihan di Spanyol, Evan Dimas pulang ke Indonesia. Mantan kapten timnas Indonesia U-19 itu mengaku mendapatkan banyak pengalaman dari Negeri Matador itu.

Evan menjalani latihan bersama Espanyol B sejak Februari lalu. Dia baru tiba di Jakarta pada Kamis (19/5) pagi ini. Namun, Evan tidak langsung pulang ke Surabaya, tapi terlebih dulu bertemu dengan Menpora Imam Nahrawi di Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta.

Evan mengakum sepakbola di Indonesia dengan di Spanyol sangat berbeda jauh. Mulai dari fasilitasnya hingga hal kecil seperti makanan yang dimakan oleh pemain. Meski terkendala bahasa, dia selalu berusaha mencari tahu tentang sepakbola Spanyol.

“Di sana, saya sempat bicara sama kapten Espanyol A (Javi Lopez, red). Saya bilang sepakbola Indonesia sangat berbeda sekali dengan Spanyol. Lalu dia bilang fasilitas diutamakan dulu, baru yang lainnya,” cerita Evan kepada wartawan.

Dari segi makanan juga sangat berbeda. Di Spanyol, kata Evan, pemain selalu makan teratur dan dibatasi makan nasi. Selama tiga bulan di sana, pemain 20 tahun itu bahkan mengalami kenaikan berat badan dari 58 kg menjadi 62.

“Di sana banyak makanan yang bergizi. Biasanya di sini makan sambel, makan tidak teratur. Tapi, di sana makan teratur, karena itu sangat berpengaruh ketika bermain di atas lapangan.”

“Perut saya dibilang kurang bagus. Disarankan jangan banyak nasi. Seharusnya makan salad, ikan, ayam, karena kalau latihan gerak, tapi makannya nasi, sama saja. Di sana saya juga dilatih fitnes terus, sedangkan di sini jarang sekali,” ungkap Evan.

Evan pun mengaku akan menerapkan ilmu dan pengalamannya selama di Spanyol kepada rekan-rekannya. Dia berharap ada dampak positif dari pembelajarannya selama ini.

“Saya tidak bisa menerapkan secara langsung atau secara permainan. Tapi, secara pelan-pelan saya coba komunikasikan ke teman-teman, kasih pencerahan ke teman-teman bahwa sepakbola yang benar kayak gimana. Saya berusaha membawa yang baik ke sini agar sepakbolanya lebih baik.”

“Saya tidak pernah kapok. Karena saya dapat pengalaman. Tidak semua bisa mendapatkan pengalaman seperti saya. Semoga ke depannya, banyak pemain yang diberikan kesempatan dan pemerintah bisa memperbaiki fasilitas sepakbolanya,” kata Evan.

Jual James, Madrid Incar Bintang Premier League

Jual James, Madrid Incar Bintang Premier League

Jual James, Madrid Incar Bintang Premier League

Bandar BolaJames Rodriguez memang sedang melalui masa-masa suram sebagai pemain Real Madrid di musim 2015-2016. Terhitung bintang Timnas Kolombia itu hanya bermain sebanyak 32 laga dengan torehan delapan gol serta 10 assist-nya untuk skuad Los Merengues.

Dengan situasi tersebut membuat masa depan James di Skuad Madrid semakin gencar dispekulasikan keberadaannya. Terlebih dengan munculnya kabar bahwa dua klub elite Premier League, Arsenal dan Manchester United, siap menampung James di musim panas 2016.

Meski begitu, para pendukung Madrid tampaknya tidak perlu risau bakal kehilangan satu pemain bintang di dalam skuadnya musim depan. Sebab menurut kabar yang saat ini sedang beredar, manajemen Madrid sudah menemukan kandidat sebagai suksesor James di skuadnya.

Menurut laporan Goal, Rabu (18/5/2016), sosok yang dimaksud adalah pemain bintang milik West Ham United, yakni Dimitri Payet. Kubu Los Blancos kabarnya tertarik mendapatkan jasa pemain Timnas Prancis itu usai melihat performa apiknya di sepanjang musim ini.

Tercatat, Payet sudah bermain sebanyak 32 pertandingan dengan mampu menyumbangkan 12 gol serta 15 assist untuk klub berjuluk The Hammers tersebut di sepanjang musim ini. Untuk bisa mengamankan tanda tangan Payet, kubu Madrid pun sudah menyiapkan dana besar.

Mereka disebut-sebut bakal menawarkan uang senilai 45 juta pounds atau sekira Rp870 miliar kepada manajemen West Ham. Jika melihat besarnya tawaran dari Madrid itu, maka sulit bagi kubu West Ham menolak melepas salah satu pemain andalannya tersebut di bursa transfer mendatang.

Del Bosque Cuma Mau Bawa Pemain yang Fit ke Prancis

Del Bosque Cuma Mau Bawa Pemain yang Fit ke Prancis

 

 

Del Bosque Cuma Mau Bawa Pemain yang Fit ke Prancis

Agen Poker – Pelatih Timnas Spanyol Vicente Del Bosque menegaskan hanya ingin membawa pemain yang fit ke Piala Eropa 2016. Itulah alasan sejumlah pemain bintang dicoret.

Del Bosque baru saja mengumumkan skuat sementara ‘Tim Matador’ yang akan dibawa ke Prancis musim panas ini. Dari 27 nama tersebut, tidak ada nama-nama top seperti Diego Costa, Juan Mata, Santi Cazorla, dan Paco Alcacer.

Kecuali Cazorla yang memang absen dalam lima bulan terakhir karena cedera lutut, Costa, Mata, dan Alcacer sebenarnya masih punya peluang untuk dibawa.

Namun, Del Bosque punya penilaian berbeda karena menurutnya ketiga pemain itu tidak dalam kondisi fit sehingga dia pun harus menepikannya.

“Kami mengevaluasi seluruh situasi. Pada prinsipnya kami tidak ingin menggantungkan harapan pada pemain yang tidak dalam kondisi terbaik. Ada dua pemain memang yang cedera, yakni Lucas Vazquez dan David Silva,” ujar Del Bosque di situs resmi tim Spanyol.

“Satu-satunya yang saya ajak bicara adalah Sergio Asenjo, untuk mengetahui kondisi fisiknya. Dia bilang dia sangat bahagia, ada di dalam daftar tunggu merupakan sebuah hadiah. Saya sedikit kecewa, sedih, bagi mereka yang sebenarnya pantas masuk tapi akhirnya tidak ada,” sambungnya.

“Jika kami memanggil Santi Cazorla dan Alcacer, kami harus mencoret dua nama lain. Mereka sudah berusaha keras untuk ada di sini. Cazorla sudah absen lima bulan tapi kami pikir ini bukan keputusan terbaik. Ketika kami memanggilnya usai periode yang intens, kami memang mempercayainya. Kami mencari pemain yang dalam kondisi terbaiknya.”

“Menyakitkan harus mencoret Mario Gaspar dan Mata, tapi kami harus membuat keputusan ini. Ketika kami ragu, kami berpikir cari yang paling praktis saja.”

“Setiap skuat itu punya kerumitan dan kesulitan sendiri. Saya sudah sering dalam situasi seperti ini dan saya tahu rasanya tidak dibawah. Saya selalu memikirkan itu ketika membentuk sebuah skuat,” tutupnya.

Spanyol akan melakoni beberapa laga ujicoba sebelum menyusutkan skuat jadi 23 nama.

”Gelar Juara Dua Musim Terakhir Bukan Sebuah Keunggulan untuk Sevilla’

‘Gelar Juara Dua Musim Terakhir Bukan Sebuah Keunggulan untuk Sevilla’

 

Gelar Juara Dua Musim Terakhir Bukan Sebuah Keunggulan untuk Sevilla

Agen Poker – Sevilla dinilai punya keunggulan karena memenangi Liga Europa dua musim terakhir. Tapi eks Liverpool John Barnes menilai tak ada yang benar-benar diunggulkan.

Sevilla dianggap sedikit lebih unggul jelang final Liga Europa di St. Jakob Park, Kamis (19/5/2016) dinihari WIB karena berpengalaman menjuarai dua edisi terakhir. Setidaknya, Los Rojiblancos bisa diperkirakan tahu benar bagaimana atmosfer dan tekanannya.

Tapi Barnes percaya hal itu tak akan berarti apapun. Liverpool di lain sisi punya bekal menyingkirkan lawan-lawan bagus seperti Manchester United, Borussia Dortmund, dan Villarreal.

Faktanya Villarreal bahkan finis lebih baik di Liga Spanyol yakni di posisi empat, dibandingkan Sevilla yang empat setrip lebih rendah di klasemen.

“Ini adalah final, apapun bisa terjadi. Keduanya adalah tim bagus. Tentu saja Sevilla sudah memenangi dua musim terakhir. Apakah mereka favoritnya? Tidak,” kata Barnes kepada Omnisport dikutip Soccerway.

“Akankah saya menjadikan Liverpool favoritnya? Mungkin hanya sedikit, tapi saya lebih akan memilih Dortmund dibandingkan Liverpool dan mereka (Liverpool) melaluinya. Ini adalah pertandingan satu kali dan segalanya bisa terjadi.”

“Performa Sevilla di liga tidaklah bagus. Ya, mereka punya pengalaman memenangi ini di dua tahun terakhir. Tapi mereka akan dalam tekanan untuk memenanginya karena ini adalah final. Saya rasa tidak satupun punya sebuah keunggulan nyata,” tandas penggawa Liverpool era 1987-1997 ini.

‘Dortmund Sempurna untuk Pemain Muda’

‘Dortmund Sempurna untuk Pemain Muda’

'Dortmund Sempurna untuk Pemain Muda'

Agen Sbobet – Ousmane Dembele mengaku mendapatkan banyak tawaran sebelum memilih Borussia Dortmund. Ia merasa, Dortmund cocok untuk pemain muda seperti dirinya.

Dembele, yang baru dua hari lalu berulang tahun yang ke-19, digaet Dortmund dari Rennes. Ia tampil apik untuk Rennes di Liga Prancis musim ini. Dari 26 penampilan, Dembele mencetak 12 gol dan membuat 5 assist.

Tidak hanya itu, Squawka juga melansir bahwa ia mengkreasikan 42 peluang untuk timnya sepanjang musim. Dengan catatan itu, Dembele adalah kreator peluang terbanyak untuk Rennes.

Wajar kalau kemudian beberapa klub besar Eropa dikabarkan mengincarnya. Bahkan, rival Dortmund, Bayern Munich, juga disebut menginginkannya. Namun, Dembele akhirnya memilih Dortmund.

“Saya mendapatkan banyak tawaran. Tapi, sejak awal saya sudah menegaskan bahwa saya hanya tertarik untuk bergabung dengan Dortmund. Saya langsung tahu bahwa Dortmund adalah satu-satunya yang saya inginkan,” ujarnya kepada Bild.

“Cara mereka menunjukkan ketertarikan kepada, kesan bahwa mereka benar-benar menginginkan saya, telah membuat saya yakin untuk bergabung dengan mereka.”

“Saya banyak melakukan pertemuan dengan pelatih Thomas Tuchel sejak Dortmund pertama kali melakukan kontak di musim dingin. Saya yakin, dia adalah pelatih yang tepat untuk perkembangan saya.”

“Dortmund adalah klub yang sempurna untuk pemain muda, sejarah sudah mencatat itu. Saya tidak sabar untuk segera memainkan laga pertama saya dengan Dortmund di hadapan suporter sendiri,” kata Dembele.

Dembele dikontrak hingga 2021 dan akan bergabung begitu bursa transfer musim panas dibuka.