Kalahkan Nuremberg dalam Playoff, Eintracht Frankfurt Bertahan di Bundesliga

Kalahkan Nuremberg dalam Playoff, Eintracht Frankfurt Bertahan di Bundesliga

 

Kalahkan Nuremberg dalam Playoff, Eintracht Frankfurt Bertahan di Bundesliga

Agen Sbobet – Eintracht Frankfurt masih akan berkompetisi di Bundesliga pada musim depan. Mereka bertahan setelah mengalahkan Nuremberg dalam playoff degradasi/promosi.

Eintracht harus menjalani playoff setelah mereka menempati posisi ke-16 di klasemen akhir Bundesliga musim 2015/2016. Lawan mereka dalam playoff adalah Nuremberg, tim peringkat ketiga di klasemen akhir divisi dua (2.Bundesliga). Playoff digelar dengan sistem kandang-tandang.

Di leg pertama yang dilangsungkan di markas Eintracht, Kamis (19/5) lalu, kedua tim bermain imbang 1-1. Hasil tersebut menguntungkan Nuremberg, yang cuma butuh hasil seri tanpa gol di leg kedua untuk promosi ke Bundesliga.

Namun, pada pertandingan leg kedua di Grundig Stadion, Selasa (24/5/2016) dinihari WIB, Eintracht keluar sebagai pemenang dengan skor 1-0. Gol tunggal tim tamu dicetak oleh Haris Seferovic pada menit ke-66.

Kemenangan tersebut membuat Eintracht berhak bertahan di Bundesliga setelah unggul agregat 2-1. Sementara itu, Nuremberg akan kembali bermain di divisi dua pada musim depan.

Freiburg dan RB Leipzig menjadi dua tim yang promosi langsung ke Bundesliga. Sementara Hannover dan VfB Stuttgart terdegradasi dari divisi teratas.

Ini Alasan Renato Sanches Lebih Pilih Bayern daripada MU

Ini Alasan Renato Sanches Lebih Pilih Bayern daripada MU

 

Ini Alasan Renato Sanches Lebih Pilih Bayern daripada MU

Agen Sbobet – Renato Sanches mengaku juga mendapatkan tawaran dari Manchester United. Namun, gelandang belia Portugal itu lebih memilih Bayern Munich karena alasan tertentu.

Sanches akan mulai memperkuat Bayern pada musim depan. Pemain berusia 18 tahun itu dibeli Bayern dari Benfica seharga 35 juta euro. Ditambah berbagai klausul tambahan terkait performanya bersama Bayern, nilai Sanches bisa naik hingga 80 juta euro.

Sebelum akhirnya bergabung dengan Bayern, Sanches sebenarnya dihubung-hubungkan dengan MU. MU sudah mengirimkan scout untuk memantaunya secara langsung. Akan tetapi, si pemain rupanya lebih memilih Bayern.

“Manchester United mengajukan tawaran, saya pikir hal itu sudah banyak diketahui,” ucap Sanches seperti dikutip Soccerway.

“Saya memilih Bayern karena mereka adalah klub besar dan karena kemiripan dengan Benfica. Mereka punya stadion dengan kapasitas 65 ribu orang dan atmosfernya sangat mirip. Saya akan pergi ke Bayern untuk memenangi titel,” katanya.

‘Mourinho Akan Sukseskan MU Lagi, tapi …’

‘Mourinho Akan Sukseskan MU Lagi, tapi …’

 

Mourinho Akan Sukseskan MU Lagi, tapi ...

Bandar Casino – Phil Neville merespons rumor Jose Mourinho-Manchester United yang kian santer. Dengan Mourinho, MU diyakini akan sukses lagi tapi dia tak akan lama di klub.

Mourinho, 53 tahun, ramai dilaporkan segera ditunjuk sebagai manajer baru MU. Pria Portugal itu akan menggantikan Louis van Gaal, yang diputus kontraknya meskipun sukses membawa MU menjuarai Piala FA pada Sabtu (21/5/2016).

Meski terkadang kontroversial, tapi Mourinho punya reputasi jempolan. Selama kariernya, Mourinho selalu juara bersama klub-klub yang dilatihnya yaitu meraih dua titel Liga Champions [Porto, Inter Milan], Piala FA, tiga Premier League dan Piala Liga [Chelsea], La Liga dan Copa del Rey [Real Madrid].

“Saat ini, Jose adalah orang yang paling tepat untuk melatih MU,” ujar Neville, yang pernah memperkuat MU pada 1995-2005 itu. “Dia sudah terbukti sebagai seorang pemenang. Fans United menginginkan sebuah tim yang bisa menjuarai liga, mereka tidak ingin tim yang cuma bisa finis ketujuh atau kelima.”

Kendati begitu, MU tidak akan bisa mengharap Mourinho akan tinggal dalam waktu yang lama. Sejumlah faktor mendukung fakta tersebut.

“Saya kira dia tidak akan berlama-lama di Man United, mungkin dua atau tiga tahun saja, itu seperti siklus dia di sebuah klub sepakbola,” ucap Neville kepada BBC.

“Ketika Jose menyelesaikan [pekerjaannya] di sebuah klub, cenderung ada pola di mana dia berselisih dengan sejumlah pemainnya, dia merasa tidak puas, dan performa timnya menurun. Itu sudah terjadi di Chelsea, jelas pernah terjadi juga di Real Madrid di mana ada rumor-rumor bahwa dia bertikai dengan beberapa pemain.”

“Itu adalah polanya Jose, dia datang ke sebuah klub, dia membawa kesuksesan tapi tidak tidak pernah bertahan lama,” simpul Neville.

Smalling: Trofi Piala FA Akan Angkat Moral Pemain Muda MU

Smalling: Trofi Piala FA Akan Angkat Moral Pemain Muda MU

 

Smalling: Trofi Piala FA Akan Angkat Moral Pemain Muda MU

Bandar Casino – Manchester United sudah berhasil memenangi ajang Piala FA musim ini. Keberhasilan itu diyakini sudah mengangkat moral pemain muda The Red Devils.

MU menjadi juara Piala FA setelah menang 2-1 atas Crystal Palace. Pertandingan di Wembley, Sabtu (21/5/2016) malam WIB, berlangsung hingga babak tambahan.

Jason Puncheon membuat MU tertinggal lebih dulu, sebelum menyamakan kedudukan lewat Juan Mata. Jesse Lingard akhirnya menjadi penentu kemenangan dengan gol yang dicetaknya.

Lingard, pemain 23 tahun, menjadi salah satu pemain muda MU yang bersinar musim ini. Selain dia, ada juga nama-nama seperti Anthony Martial, Marcus Rashford, dan Timothy Fosu-Mensah.

Wakil kapten MU, Chris Smalling, bilang bahwa keberhasilan musim ini akan membuat pemain-pemain muda MU itu bisa mempunyai keyakinan tinggi untuk bisa jauh lebih berprestasi.

“Kami mempunyai banyak pemain muda yang menunjukkan diri di musim ini dan cukup sering mereka unjuk gigi di laga besar,” ujar Smalling di Soccerway.

“Saya sangat antusias untuk Jesse karena itu merupakan sepakan yang luar biasa yang layak untuk memenangi pertandingan apapun.”

“Saya pikir itu akan membantu saat ada beberapa pemain muda dan Anda bukan satu-satunya, maka Anda mungkin akan sedikit kagum.”

“Ada banyak pemain muda yang mendapatkan kesempatan pertama untuk mengangkat piala pertama mereka, itu akan memberi mereka keyakinan besar untuk menatap musim depan.”

“Saat Anda menuju ke musim berikutnya Anda mempunyai pengalaman memenangi suatu ajang yang masih segar di kepala Anda dan itu yang harus kami bangun dan memastikan bahwa musim depan kami finis dengan memenangi suatu ajang,” tambahanya.

Soal Rumor Akan Jadi Pelatih Italia, Cannavaro: Masa Depan Siapa yang Tahu

Soal Rumor Akan Jadi Pelatih Italia, Cannavaro: Masa Depan Siapa yang Tahu

 

Soal Rumor Akan Jadi Pelatih Italia, Cannavaro: Masa Depan Siapa yang Tahu

Agen Sbobet – Fabio Cannavaro mengungkapkan hasratnya untuk menjadi pelatih tim nasional Italia. Soal kansnya menjadi pelatih Gli Azzurri, dia bilang bahwa tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan.

Italia akan ditinggal oleh Antonio Conte seusai Piala Eropa. Conte sudah menerima pinangan Chelsea, hingga posisi pelatih timnas pun lowong.

Beberapa nama sudah beredar untuk menjadi kandidat pelatih timnas Italia yang baru. Mulai dari Roberto Donadoni, sampai Roberto Mancini.

Pelatih yang mengantarkan Italia juara dunia tahun 2006, Marcelo Lippi, menambah satu nama yang menjadi kandidat lagi. Dia menyebutkan nama Cannavaro sebagai kandidatnya.

Saat berada di Jakarta usai bertanding Cladio Legend melawan Primavera Barreti di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Senayan, Jakarta, Sabtu (21/5/2016), Cannavaro ditanya mengenai hal itu.

Cannavaro memberikan jawaban yang diplomatis atas kemungkinan untuk menjadi pelatih Italia yang baru.

“Kami tidak tahu bagaimana masa depan. Saya sangat ingin melatih timnas Italia, tapi masa depan tidak ada yang tahu,” kata Cannavaro kepada pewarta.

 

Menjawab Klaim Inggris, London, dan Piala FA sebagai Kiblat Sepakbola Dunia

Menjawab Klaim Inggris, London, dan Piala FA sebagai Kiblat Sepakbola Dunia

 

Menjawab Klaim Inggris, London, dan Piala FA sebagai Kiblat Sepakbola Dunia

Bandar Poker – Ini adalah soal London dan Piala FA. Yang satu adalah kota dengan berbagai cerita soal sepakbola, yang lainnya adalah turnamen tertua yang kaya cerita.

Keberhasilan Arsenal menggeser Tottenham Hotspur dari peringkat kedua Liga Primer Inggris adalah salah satu kisah utama pada akhir pekan yang lalu. Ini memang tidak seperti kesuksesan Leicester City menjuarai Liga Primer, namun bagi pendukung Arsenal maupun Spurs, St. Totteringham’s day ini adalah momen yang sangat penting.

St. Totteringham’s day adalah hari yang sudah terkenal. Hari tersebut adalah saat ketika suporter Arsenal merayakan keberhasilan mereka karena pada saat itu Spurs sudah tidak bisa lagi mengejar mereka di klasemen secara matematis.

Ini memang hanya melibatkan dua kesebelasan, Arsenal dan Spurs. Namun, jika kita melihat secara keseluruhan, sepakbola di Kota London memang sudah selalu menjadi sorotan. Masalahnya yang kemudian muncul adalah, siapa sebenarnya yang paling sukses di kota London? Dan apa efek sepakbola di kota London kepada sepakbola dunia secara keseluruhan?

Sebelum kita mendapatkan jawaban dari dua pertanyaan tersebut, kita bisa sedikit mengetahui terlebih dahulu mengenai sejarah sepakbola di ibukota Inggris tersebut.

Piala FA sebagai Tonggak Sejarah Sepakbola di Kota London

Budaya sepakbola di inggris sudah sangat kuat, terutama karena mereka mengaku sebagai leluhur sepakbola modern. Hal ini juga terjadi di London.

Sepakbola dimainkan hampir di seluruh kota tersebut. Di London, sepakbola tak melulu tentang olahraga, tapi juga ada unsur kekerasan, mabuk-mabukkan, gaya berpakaian, hingga politik di dalamnya. Jadi tak jarang, warga London mengaku kotanya sebagai kiblat sepakbola dunia.

Diawali pada akhir abad ke-19, mulai bermunculan sejumlah kesebelasan amatir di London dan sekitarnya. Namun, belum adanya kompetisi resmi saat itu, membuat kesebelasan amatir tersebut hanya rutin mengadakan pertandingan persahabatan. Belum adanya peraturan baku juga membuat setiap kesebelasan menentukan peraturan yang akan digunakan menjelang pertandingan.

Harrow School yang berada di wilayah Harrow on the Hill, sebelah tenggara London, merupakan pionir sepakbola modern. Sekolah tersebut menetapkan peraturan tentang sepakbola yang harus menggunakan kaki, kecuali penjaga gawang. Peraturan lainnya adalah penjaga gawang menggunakan sarung tangan dan mahkota untuk membedakannya dengan pemain outfield.

Akibat ketidakseragaman peraturan sepakbola di London, beberapa sekolah pun bertemu untuk membahas mengenai peraturan dasar sepakbola. Diadakan di The Freemasons’ Tavern di Great Queen Street, London, pada 26 Oktober 1863, mereka pun menyetujui sebuah peraturan dasar dalam permainan sepakbola dan membentuk lembaga khusus yang bernama The Football Association (FA).

Untuk meramaikan Kota London, FA membuat sebuah kompetisi yang diberi nama Football Association Challange Cup, yang sekarang kita kenal sebagai FA Cup atau Piala FA. Sampai sekarang pun kita mengenal Piala FA sebagai kompetisi sepakbola tertua di dunia.

Pertandingan final pertama Piala FA yang digelar saat itu, pada 16 Maret 1872, mempertemukan dua kesebelasan amatir, yakni Wanderers melawan Royal Engineers. Pertandingan berlangsung di Kennington Oval (sekarang lebih dikenal sebagai “The Oval” yang menjadi stadion kriket) yang dimenangi oleh Wanderers dengan skor 1-0.

Sementara pertandingan final pada akhir pekan ini (Sabtu, 21 Mei 2016, 23:30 WIB), yang mempertemukan Crystal Palace dan Manchester United, adalah final Piala FA ke-135.

Sejarah Beberapa Kesebelasan di Kota London

Pada tahun 1879, berdiri Fulham St. Andrews Church Sunday School FC yang kini lebih dikenal dengan nama Fulham. Kesebelasan ini menjadi kesebelasan profesional yang pertama berdiri di London, diikuti oleh Leyton Orient, Tottenham Hotspur, Queens Park Rangers, Millwall, Barnet, Brentford, Wimbledon, dan Woolwich Arsenal –yang kini berubah nama menjadi Arsenal– pada medio 1880-an.

Sementara itu, Chelsea, Charlton Athletic, Crystal Palace, dan Thames Ironworks –yang berubah menjadi West Ham United–, baru bergabung pada 1900-an.

Bergulirnya The Football League pada Maret 1888, membuat banyak kesebelasan asal London berdiri. Namun pada musim tersebut, kesebelasan asal London gagal membawa gelar juara, karena dimenangi oleh Preston North End asal Lancashire.

Pada musim 1904, Woolwich Arsenal menjadi kesebelasan London pertama yang sempat duduk di puncak klasemen, meski di akhir musim juara direngkuh oleh The Wednesday, asal kota Sheffield (sekarang menjadi Shefield Wednesday). Pada musim 1907, giliran Chelsea yang gagal juara setelah sempat duduk di puncak. Gelar juara akhirnya dimenangkan oleh Newcastle United.

Pada tahun 1915-1919, Football League vakum akibat perang dunia. Banyaknya pemain yang diharuskan berpartisipasi ke dunia militer membuat liga terhenti. Musim 1919-20, liga dimulai lagi dengan menghasilkan West Bromwich Albion sebagai juara. Sedangkan Chelsea mampu finis di peringkat keempat, menjadikan musim tersebut sebagai yang tersukses bagi mereka sejak mereka bergabung di Football League.

Sukses besar ditorehkan Arsenal pada era 1930-an. Mereka sukses menjadi juara sebanyak lima kali dalam sepuluh musim. Pada awal musim 1939/1940, London menempatkan lima wakil di antara 22 kesebelasan Football League. Mereka adalah Arsenal, Chelsea, West Ham, Charlton Athletic, dan Brentford. Namun pada pertengahan musim tersebut, liga terpaksa ditunda lagi akibat perang dunia kedua. Liga dilanjutkan pada musim 1946/1947, namun Brentford terpaksa turun ke divisi dua.

Siapa Rajanya Kota London?

Kota yang memiliki luas 1,570 km2 ini, untuk saat ini, ternyata sudah memiliki total 42 kesebelasan dari Liga Primer Inggris (level pertama) sampai Southern Football League Division One Central (level kedelapan).

Oh, ya, sebanyak itu? Bisakah Anda menyebutkan seperempatnya saja? Silakan jika mau berpikir dan menebak, tetapi jika Anda mau langsung mengetahui jawabannya, lanjutkan saja ke paragraf berikut ini.

Di Liga Primer 2015/16, London memiliki Arsenal, Chelsea, Crystal Palace, Tottenham, dan West Ham United. Kemudian di Divisi Championship 2015/16, ada Brentford, Charlton Athletic, Fulham, dan Queens Park Rangers.

Di League One 2015/16 ada Millwall saja, sementara di League Two 2015/16 ada AFC Wimbledon, Barnet, Dagenham & Redbridge (ini nama satu kesebelasan, bukan dua), dan Leyton Orient. Sisanya kita bisa menyebut dari Welling United sampai Corinthian-Casuals yang menginspirasi Sport Club Corinthians Paulista di Brasil.

Padahal kita belum menyebut kesebelasan yang sudah almarhum seperti Wanderers yang menjadi juara di Piala FA edisi pertama, Clapham Rovers, Wimbledon (tanpa AFC di depan nama mereka), Hayes, Nunhead, Croydon Athletic, dan 13 kesebelasan lainnya yang disebutkan pun kita mungkin tidak akan tahu.

Untuk menilai kesebelasan London yang paling sukses, kita bisa menyebutnya dari berbagai perspektif. Jika kita membicarakan gelar keseluruhan, Arsenal adalah rajanya London dengan koleksi 43 gelarnya di segala ajang resmi FA, UEFA, dan FIFA (Emirates Cup tidak masuk, ya). Kita bisa melihat tabel di bawah ini untuk mengetahuinya secara lengkap.

‘Setan Merah’ Ingin Sedekat Mungkin dengan Wembley

‘Setan Merah’ Ingin Sedekat Mungkin dengan Wembley

'Setan Merah' Ingin Sedekat Mungkin dengan Wembley

Agen Sbobet – Jelang final Piala FA, Manchester United menginap di hotel tidak jauh dari Stadion Wembley. Mereka ingin sedekat mungkin dengan stadion dihelatnya final itu.

Manajer United, Louis van Gaal, sendiri yang memutuskan untuk menginap tidak jauh dari stadion. Kini, para pemain United bisa melihat langsung Wembley dari tempat mereka menginap.

Van Gaal mengaku, ia pernah melakukan hal serupa ketika masih menangani Ajax Amsterdam di pertengahan 1990-an. Apa alasan manajer asal Belanda tersebut melakukannya?

“Kami memilih hotel ini karena kami bisa selalu melihat Stadion Wembley, supaya stadion itu selalu ada di benak para pemain, ini berkaitan dengan psikologi,” ujar Van Gaal kepada MUTV.

“Saya sudah pernah melakukannya juga bersama Ajax –para pemain bisa melihat stadion Besiktas ketika kami bermain di sana.”

“Kalian semua tahu, di Turki para pendukungnya selalu bising sepanjang hari. Jadi saya pikir, bagus kalau kami menginap dekat stadion dan hasilnya pun positif,” kata Van Gaal.

Dengan menginap dekat Wembley, tentunya skuat United bisa memangkas jarak untuk datang ke stadion. Dalam beberapa kunjungan terakhir ke London, dua kali United terjebak macet dan terlambat datang ke stadion, yakni ketika tandang ke markas Tottenham Hotspur dan West Ham United.

Kunjungan ke markas West Ham tidak berakhir menyenangkan. Lantaran telat, bus mereka pun berhadapan langsung dengan para pendukung The Hammers di luar stadion. Imbasnya, bus tersebut ditimpuki hingga kaca bagian luarnya pecah.

Saul: Ini Bukan Soal Balas Dendam

Saul: Ini Bukan Soal Balas Dendam

 

Saul: Ini Bukan Soal Balas Dendam

Agen Judi – Saul Niguez menepis anggapan bahwa Atletico Madrid menghadapi final Liga Champions melawan Real Madrid dengan niat untuk balas dendam. Sebaliknya, ini soal membuat sejarah.

Ya, sejarah. Apabila Atletico akhirnya keluar sebagai juara di final akhir pekan depan, 28 Mei 2016, mereka akan jadi juara baru, yang artinya untuk pertama kalinya dalam riwayat klub mereka sukses memenangi turnamen paling bergengsi antarklub Eropa itu.

Soal dendam, semua berbalik pada final dua tahun silam. Kala itu, pada laga yang berlangsung di Stadion Da Luz, Lisbon, Portugal, Atletico sempat unggul lebih dulu, tetapi kalah 1-4 lewat babak perpanjangan.

Saul mengakui bahwa Madrid memang lebih diunggulkan. Namun, kalau memang mereka lebih diunggulkan, kata Saul, Los Blancos harus bisa menunjukkannya di lapangan.

“Jika Real Madrid adalah tim yang superior, mereka harus membuktikannya di lapangan,” ujarnya kepada Radio Marca.

“Final di Milan kali ini bukanlah laga ulangan dari Lisbon, ini juga bukan soal balas dendam, ini soal membuat sejarah.”

“Kami tahu bahwa Madrid adalah tim yang tangguh. Laga nanti bakal sulit, tapi kami hanya berpikir soal bagaimana caranya bisa menang,” kata gelandang berusia 21 tahun ini.

Atletico melaju ke final setelah menyingkirkan Barcelona dan Bayern Munich di babak perempatfinal dan semifinal. Ini membuat mereka dinilai punya kans sama besar dengan Madrid untuk menang di final.

Pendukungnya Dilarang Bawa Bendera Catalan, Barcelona Ajukan Banding

Pendukungnya Dilarang Bawa Bendera Catalan, Barcelona Ajukan Banding

 

Pendukungnya Dilarang Bawa Bendera Catalan, Barcelona Ajukan Banding

Barcelona – Pendukung Barcelona dilarang membawa dan mengibarkan bendera Catalan di final Copa del Rey. Kubu El Barca mengajukan protes dan banding atas keputusan tersebut.

Pemerintah Kota Madrid pada tengah pekan ini mengeluarkan larangan bagi pendukung Barcelona untuk membawa dan mengibarkan bendera Katalan (Estelada) dalam laga final Copa del Rey, Minggu (22/5/2016) di Vicente Calderon. Barcelona akan berhadapan dengan Sevilla dalam pertandingan tersebut.

Larangan membawa serta mengibarkan bendera Catalan tentu saja langsung diprotes kubu Barca. Mereka mengatakan kalau aturan tersebut sama saja dengan serangan terhadap kebebasan berekspresi dan mengeluarkan pendapat. Sebagai bentuk protes, Presiden Josep Maria Bartomeu disebutkan tidak akan menghadiri final.

Bukan cuma memprotes, Barcelona secara resmi sudah mengajukan banding ke pengadilan agar larangan itu dicabut.

“FC Barcelona pada hari ini (Kamis) sudah mengajukan banding secara administratif pada Pengadilan Madrid untuk melindungi hak yang mendasar dan permintaan untuk membatalkan perintah yang sebelumnya dikeluarkan oleh Pemerintah Community of Madrid,” demikian pernyataan resmi Barcelona.

“Perintah tersebut merupakan pelarangan kemunculan bendera Estelada di final Copa del Rey yang akan dilangsungkan Minggu, 22 Mei di Vicente Calderon, antara FC Barcelona dan Sevilla,” lanjut pernyataan itu dikutip dari FourFourTwo.

Bukan cuma Pemerintah Madrid dan Spanyol yang mempermasalahkan bendera Katalan. UEFA setidaknya sudah dua kali menjatuhkan sanksi denda pada Barcelona atas berkibarnya bendera tersebut di ajang yang mereka gelar. UEFA berpendapat bahwa Estelada merupakan simbol politik yang bersifat provokatif dan ofensif serta tidak berhubungan dengan kegiatan olahraga.

Evan Dimas Cerita Pengalamannya Berlatih di Spanyol

Evan Dimas Cerita Pengalamannya Berlatih di Spanyol

Evan Dimas Cerita Pengalamannya Berlatih di Spanyol

Agen Bola – Setelah tiga bulan menjalani latihan di Spanyol, Evan Dimas pulang ke Indonesia. Mantan kapten timnas Indonesia U-19 itu mengaku mendapatkan banyak pengalaman dari Negeri Matador itu.

Evan menjalani latihan bersama Espanyol B sejak Februari lalu. Dia baru tiba di Jakarta pada Kamis (19/5) pagi ini. Namun, Evan tidak langsung pulang ke Surabaya, tapi terlebih dulu bertemu dengan Menpora Imam Nahrawi di Kantor Kemenpora, Senayan, Jakarta.

Evan mengakum sepakbola di Indonesia dengan di Spanyol sangat berbeda jauh. Mulai dari fasilitasnya hingga hal kecil seperti makanan yang dimakan oleh pemain. Meski terkendala bahasa, dia selalu berusaha mencari tahu tentang sepakbola Spanyol.

“Di sana, saya sempat bicara sama kapten Espanyol A (Javi Lopez, red). Saya bilang sepakbola Indonesia sangat berbeda sekali dengan Spanyol. Lalu dia bilang fasilitas diutamakan dulu, baru yang lainnya,” cerita Evan kepada wartawan.

Dari segi makanan juga sangat berbeda. Di Spanyol, kata Evan, pemain selalu makan teratur dan dibatasi makan nasi. Selama tiga bulan di sana, pemain 20 tahun itu bahkan mengalami kenaikan berat badan dari 58 kg menjadi 62.

“Di sana banyak makanan yang bergizi. Biasanya di sini makan sambel, makan tidak teratur. Tapi, di sana makan teratur, karena itu sangat berpengaruh ketika bermain di atas lapangan.”

“Perut saya dibilang kurang bagus. Disarankan jangan banyak nasi. Seharusnya makan salad, ikan, ayam, karena kalau latihan gerak, tapi makannya nasi, sama saja. Di sana saya juga dilatih fitnes terus, sedangkan di sini jarang sekali,” ungkap Evan.

Evan pun mengaku akan menerapkan ilmu dan pengalamannya selama di Spanyol kepada rekan-rekannya. Dia berharap ada dampak positif dari pembelajarannya selama ini.

“Saya tidak bisa menerapkan secara langsung atau secara permainan. Tapi, secara pelan-pelan saya coba komunikasikan ke teman-teman, kasih pencerahan ke teman-teman bahwa sepakbola yang benar kayak gimana. Saya berusaha membawa yang baik ke sini agar sepakbolanya lebih baik.”

“Saya tidak pernah kapok. Karena saya dapat pengalaman. Tidak semua bisa mendapatkan pengalaman seperti saya. Semoga ke depannya, banyak pemain yang diberikan kesempatan dan pemerintah bisa memperbaiki fasilitas sepakbolanya,” kata Evan.